Lompat ke isi utama

Berita

Kordiv. HPS Bawaslu Kota Bogor Hadiri Undangan Pelantikan Pengurus LBHMI

Kordiv. HPS Bawaslu Kota Bogor Hadiri Undangan Pelantikan Pengurus LBHMI

Kordiv. Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Bogor, Firman Wijaya menjadi Keynote Speech pada agenda Kegiatan Pelantikan Pengurus LBHMI Cabang Bogor. Sabtu (09/05/2026)

Kota Bogor, 09 Mei 2026 - Kordiv. Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Bogor, Firman Wijaya menghadiri undangan dari HMI Cabang Bogor sebagai Keynote Speech pada acara Pelantikan Pengurus LBHMI Cabang Bogor pada Sabtu (09/05/2026) di Aula DPRD Kota Bogor.

Firman Wijaya, dalam speechnya mengangkat tema: “Demokrasi, Oligarki, & Advokasi.” Menurut Firman, demokrasi bukanlah sebuah sistem yang dapat tumbuh sekali untuk selamanya. Sebaliknya demokrasi bisa mengalami stagnasi bahkan kemunduran yang biasanya diawali dengan menguatnya oligarki disuatu negara, kemudian oligarki mengincar demokrasi.

Tapi menurutnya oligarki dapat dicegah dengan edukasi politik yang berkelanjutan, dan diantisipasi oleh pergerakan rakyat yang sadar akan hak kewarganegaraannya, yg didalamnya terdapat hak politik, ekonomi, sosial dan lainnya.

Untuk itu penguatan advokasi dalam menyadarkan massa rakyat akan hak-haknya adalah tugas kaum intelektual sebagai pelopor, yang dalam pendekatan Antonio Gramsci disebut “intelektual organik,” atau dalam dalam pendekatan Ali Syariati, disebut “rausyan fikr.”

Pelantikan pengurus Lembaga Bantuan Hukum Himpunan Mahasiswa Islam (LBHMI) Cabang Bogor tersebut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Bogor Eko Prabowo, Ketua HMI MPO Cabang Bogor Bhakty Setya Legawa, Direktur LBHMI Cabang Bogor Aidil Fitri Harris, serta Ketua Kohati HMI MPO Cabang Bogor Yunda Sofwatul Hasanah.

Dalam pidatonya, Firman Wijaya menekankan bahwa demokrasi tidak boleh dipahami hanya sebagai prosedur pemilu atau pergantian kekuasaan semata. Menurutnya, demokrasi yang sehat harus mampu menjamin keterlibatan rakyat secara aktif dalam menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut menyambut positif materi yang disampaikan Firman Wijaya. Mereka menilai pembahasan mengenai hubungan antara demokrasi, oligarki, dan advokasi menjadi isu yang relevan dengan kondisi sosial-politik saat ini.

Kehadiran Firman Wijaya sebagai keynote speaker dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara lembaga pengawas pemilu dengan organisasi kepemudaan dan masyarakat sipil. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga demokrasi dari berbagai bentuk ancaman, termasuk dominasi oligarki dalam ruang politik.